Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Movie/Anime

Film Loki Season 2

Season dua seri Loki ini terlalu rumit aspek worldbuilding-nya. Plotnya gak natural, konflik ceritanya dipaksakan muncul karena worldbuilding yang rumit itu. Season yang pertama itu bagus karena aku suka konsep ide ceritanya, di mana Loki bertindak tidak sesuai timeline sehingga memunculkan pertanyaan apa yang terjadi pada timeline tersebut. Dan film tersebut cukup menjawab keingintahuan audience ini. Season kedua, idenya adalah adanya ancaman adanya banyak villain dari banyak multiverse. Mereka akan berperang satu sama lain dan multiverse terancam hancur. Dengan ide cerita seperti itu, audience pasti berharap bakal menyaksikan banyak variasi villain tersebut, bagaimana peperangan antar multiverse tergambarkan, dan bagaimana si hero (dalam hal ini Loki) menghentikan event tersebut. Namun yang didapatkan malah cerita tentang kendala teknis yang dialami TVA. Memang sih ancamannya besar jika kendala teknis tersebut tidak diperbaiki. Tapi apa serunya? Ini film Superhero. Kita pingin meliha...

Film Aquaman Lost Kingdom

Film Aquaman sequel , aku kasih nilai "meh". Cukup okey ditonton, tapi gak ada kesan, gak ada yang menarik. Yang menarik dari Aquaman yang pertama itu kan konsepnya. Bahwasannya ada kerajaan bawa laut, terus mereka konflik, terus kita disuguhkan berbagai macam action dan teknologi fantasi bawah laut. Keren. Sedangkan pada sekuelnya kali ini, entahlah aku gak mendapatkan kesan adanya action dan keajaiban makhluk bawah laut. Malah kayaknya porsi setting film-nya banyakan di darat, dengan wujud monster-monster yang, biasa aja. Kayaknya sih, film ini tuh lebih pingin menekankan pada aspek karakternya ketimbang action atau worldbuilding. Aspek karakter yang pingin ditonjolkan itu hubungan adik-kakak antara Aquaman dan saudara tirinya. Cuma, apa ya, interaksi yang ditunjukkan itu klise banget. Mereka bertengkar, gak akur, terus di akhir jadi kerjasama. Ya tipikal drama keluarga gitu lah. Jadinya aku ya ngerasa bosan. Soalnya apa bedanya film ini dengan film drama keluarga yang lain...

Film Rebel Moon

Aku sempet tidur nonton film Rebel Moon . Entahlah, mungkin karena gak ada yang menarik dari film ini. Protagonisnya gak menarik. Tipikal mantan prajurit yang merasa bersalah dan membayar dosanya. Membosankan, gak ada yang unik. Combat-nya juga generik. Ya seperti prajurit, pake melee sama tembak-tembakan. Adapun supporting character lain, entah ada 5 atau 6, mereka semua punya kepribadian yang sama. Merasa bersalah dengan masa lalu, pingin balas dendam, pingin redemption. Hampir gak ada perbedaan lho. Yang beda cuma cara merekrut mereka. Sedangkan apa role mereka dalam grup, gak ada. Semuanya sama-sama tukang pukul. Secara plot juga boring banget. Gak ada sesuatu yang menarik yang terjadi. Paling-paling cuma momen perekrutan satu per satu supporting karakter. Misal yang menjinakkan Griffin itu, sama perempuan yang lawan siluman laba pake lightsaber. Udah itu doang. Kebanyakan waktu dihabiskan buat ngomong mulu. Battle cuma di awal sama akhir doang. Juga gak jelas ini cerita arahnya ke...

Film The Creator

Secara plot dan karakter film The Creator itu sedang-sedang aja sih. Gak yang keren banget, gak juga jelek. Soalnya udah umum banget dipake. Protagonis kehilangan orang tercinta, pingin rescue, ketemu anak kecil, lalu berusaha protect anak tersebut sebagai ganti orang tercintanya. Boring, kan?! Tapi mereka mengeksekusi plot dan karakter tersebut dengan cukup baik. Contoh hubungan antara si protagonis dan anak kecil tersebut dibangun dengan tidak buru-buru. Dan cukup konsisten dengan motif masing-masing. Mereka saling mau kerjasama karena sama-sama ingin escape dari antagonis dan pingin ketemu si perempuan. Jadi, plot dan karakternya boring, tapi masih terasa make sense. Nah, sekarang yang paling aku suka dari film ini adalah aspek worldbuilding-nya. Idenya adalah, manusia membangun robot dan AI untuk membantu manusia, bahkan hidup berdampingan, AI punya free will sendiri. Lalu muncul masalah di mana AI meluncurkan nuklir dan membunuh satu kota. Dunia terbagi. Orang barat ingin memusnah...

Film The Eye (2002)

Film The Eye punya konsep yang menarik untuk film horror. Protagonisnya adalah perempuan buta dan baru saja mendapatkan transplantasi kornea sehingga dia bisa melihat lagi. Tapi masalahnya, setelah bisa melihat, dia tidak hanya melihat dunia fisik saja tapi juga makhluk gaib. Menarik, dia bisa melihat hantu seorang anak yang mati bunuh diri. Atau hantu anak istri seorang pemilik warung selalu mengunjungi suaminya, juga arwah orang yang hendak atau baru saja mati. Idenya berasal dari fenomena psikiatri tentang bagaimana seseorang beradaptasi dari yang sebelumnya tidak memiliki library sense akan penglihatan terus tiba-tiba bisa menyadari keberadaan sesuatu tanpa harus menyentuhnya. Pasti ada konflik di mana dia bakal kesulitan untuk membedakan mana yang real dan yang tidak. Ide ini dieksplor cukup baik pada awal-awal film, di mana si protagonis tidak tahu bahwa anak kecil yang diajak bicaranya adalah hantu. Terus juga menarik bahwa wajah dirinya sendiri yang dia lihat di cermin bukanla...

Film Godzilla Minus One

Aku gak nyangka film Godzilla Minus One ini bagus banget. Sebelum nonton, aku lihat review, katanya sih bagus. Cuma bagusnya itu dari aspek karakternya, bukan Godzilla-nya. Sedangkan aku, bukan tipikal audiens yang peduli sama karakter ketika nonton Godzilla. Contohlah Godzilla yang bikinan Hollywood, yang King of Monster sama Versus King Kong. Aku mah gak peduli sama karakternya, mau mati kek, sacrifice kek, bodoh. Yang aku pingin tonton adalah scene Ghidorah lawan Rhodan, Godzilla tag team sama Mothra. Makanya ketika aku dengar Godzilla Minus One bagus dari aspek karakter, dan mediocre sama aspek Godzilla-nya sendiri, aku jadi kurang tertarik. But boy, I am wrong. Protagonisnya, bagus banget. Aku yang awalnya gak peduli, bisa dibikin nangis gara-gara konflik yang dialami karakter. Sebenarnya secara ide simple. Dia adalah mantan prajurit perang yang merasa bersalah karena dia yang menyebabkan rekan-rekannya terbunuh oleh Godzilla, dan dia ingin balas dendam. Ide kayak gini kan banyak...

Film Shin Godzilla

Yang aku suka dari film Shin Godzilla ini adalah konsep Godzilla-nya. Pertama, secara visual keren, cukup fresh dibandingkan Godzilla pendahulunya. Doi punya warna ungu. Semburannya juga dibikin bukan seperti nafas api, tapi lebih seperti tembakan laser dari atom yang dipadatkan. Cuma agak aneh aja sama laser yang keluar dari punuk dan buntutnya. Berikutnya secara konsep bahwasannya Godzilla ini mengalami evolusi yang cepat seiring pertumbuhannya, ini cukup emosional. Karena ada penafsiran kalau Godzilla ini senantiasa berada dalam kesakitan dan kemarahan, karena tubuhnya secara konstan harus berubah menyesuaikan lingkungan. Tapi penafsiran ini aku dapatkan dari review, bukan dalam film itu sendiri sih. Kayaknya filmnya kurang bisa menunjukkan aspek ini. Yang aku gak suka dari film ini adalah mereka terlalu tendensius ingin menyampaikan pesan tentang kritik pemerintahan Jepang yang terlalu birokratik. Dengar, aku gak masalah sebuah film atau cerita memiliki pesan moral tertentu. Tapi ...

Film KKN di Desa Penari

Film  KKN di Desa Penari ini bagus sih. Aku suka plot dan karakternya yang reasonable. Meskipun agak kurang dalam hal masih bergantung sama jumpscare, dan kurang memamfaatkan tema KKN, sehingga terkesan kurang unik. Tapi sebagai film horror, aku okay. Aku bilang plot dan karakternya cukup reasonable dalam ada hukum sebab akibat dalam perkembangan plot dan karakternya. Bahwasanya apa yang menimpa seorang karakter pada plot tertentu, itu memang disebabkan oleh plot yang terjadi sebelumnya. Sehingga kita audiens akan merasa "oh iya juga ya" saat suatu plot terjadi. Contohnya, kenapa si cowok bisa terpikat bujuk rayu antagonis, oh karena dia suka sama si temannya. Terus kenapa si cewek juga mau menuruti si antagonis, karena ada imbalan bakal ngedapetin si cowok. Juga kenapa si cewek kerudung gak terpengaruh sama antagonis, oh karena ada yang melindungi. Kenapa dua cowok lain gak diganggu seperti yang lain, karena mereka gak ngapa-ngapain. Intinya ada hukum sebab akibat kenapa se...

Film Sri Asih

Cuma satu aspek yang paling bisa aku nikmati dari film Sri Asih ini, yaitu scene tarungnya doang. Selebihnya, plot, karakter, entahlah, bego banget dah. Tipikal film superhero, plotnya itu harusnya menceritakan dinamika si hero, mulai di awal dia struggle, terus di akhir dia bisa overcome. Film Sri Asih, ini aku gak ngerasa struggling-nya dia. Kalau pun ada, seringkali artifisial. Kayak, dia itu sebenarnya bisa menyelesaikan rintangan di depannya, cuma goblok aja sehingga kelihatan struggling. Misal pas lawan si setan, dia struggle gak bisa nangkap. Lha kan dia punya selendang itu yang terbukti bisa bikin si setan kagak bisa berubah wujud, kenapa kagak dipake terus?! Tai.. Karena gak ada struggling, maka gak kerasa sisi heroiknya dia di mana. Sebagai film superhero, ini gak menarik. Plotnya juga gitu, goblok banget. Alur utamanya kan ada dua nih, si Alana pingin balas dendam ke mafia yang mencoba membunuh ibunya. Terus sebagai Sri Asih, dia harus menghentikan Roh Setan melakukan ritua...

Film Pengabdi Setan 2

Film Pengabdi Setan 2  ini set up sama build up-nya bagus. Sayang pay off-nya kurang memaksimalkan potensial. Aku suka setting-nya mereka yang ambil tempat di rusun. Di mana mereka memanfaatkan unsur-unsur yang ada di sana buat menciptakan sisi horror. Misal menggunakan asumsi lift yang rusak untuk menciptakan tragedi kematian massal pada penghuni lift tersebut. Aku juga suka unsur personal dalam kematian tiap karakternya. Misal, si ibu mati sehingga meninggalkan anaknya sendirian. Tiga dari empat anak perempuan mati dan menghantui yang satu masih hidup. Jadi setiap "hantu"-nya punya cerita sendiri, membuat horrornya lebih personal. Unsur setting dan hubungan personal antar karakter, ini menurutku adalah khas dari film Pengabdi Setan yang klasik. Ini yang membedakan dia dengan horror murahan yang hanya mengandalkan jumpscare. Dan versi yang modern ini cukup bisa memenuhi unsur khas klasik itu. Sayangnya dua aspek di atas kurang dimanfaatkan. Aspek setting apartemen, cuma dima...

Film DreadOut

Film  DreadOut ini film horror adaptasi game. Versi game-nya bagus. Tapi film-nya goblok banget anjir. Ada banyak hal yang mengecewakan dari film ini, mulai dari karakter, plot, dan world building-nya. Tapi aku kritik jadi dua poin aja, kritik film ini sebagai film horror, dan kritik sebagai film adaptasi game. Sebagai film horror, harusnya bisa memunculkan rasa ngeri bagi penontonnya. Salah cara memunculkan rasa ngeri adalah dengan membuat penonton bisa relate sama apa yang terjadi di dalam film. Oleh karenanya, film horror mengharuskan plotnya itu logis, sesuai dengan yang terjadi di kehidupan penonton. Misal, ketika melihat sesuatu yang menakutkan, respon orang normal adalah takut, lari, dan menghindarinya. Ini adalah respon yang relatable. Kalau responnya santuy aja atau panik berlebihan, ini penonton gak bakal bisa relate. Di film Dreadout, hampir semua respon karakternya, atau plotnya, itu pada gak logis. Dialognya gak nyambung. Contoh, satu karakter ngomongin soal portal, e...

Film Hunger Games Songbird

Aku bingung sama plot film ini . Ini tentang apa, arah ceritanya kemana, di akhir cerita aku harus merasa apa. Awalnya aku kira ini film action petualangan, kayak original Hunger Games itu. Di mana sisi menariknya adalah bagaimana si protagonis harus mikir cara memenangkan pertandingan. Adapun film prequel-nya ini, Hunger Games Songbird, awalnya kayak gitu kan. Si protagonis masuk pertandingan. Tapi setelah pertandingan selesai, eh ternyata itu bukan plot utamanya, soalnya filmnya masih ada durasi 1 jam lagi. Buset Durasi sisanya tuh berkisar pada tema, entahlah, love story? Konflik masyarakat? Entahlah, sumpah bingung. Jadi kemungkinan ada 3 tema plot kan, antara action adventure, romance, dan atau social conflict. Masalahnya, ketiga plot tersebut gak kerasa enak diikuti. Pertama action adventure, ini kurang menarik dibandingkan film originalnya. Kayak gampang banget gitu si karakter memenangkan game. Musuhnya pada goblok. Si protagonis cuma modal racun tikus sama nyanyian. What?! Ter...

Film Betina Pengikut Iblis

Harusnya film  ini punya premis yang bagus. Tentang penjual gule yang dagingnya dari mayat orang mati. Sayangnya ini kurang dieksplorasi dalam konflik antar karakternya. Misal nih si Sumi awalnya menggunakan daging adik si Sari untuk jualan. Karena laris, maka ketagihan untuk terus menerus. Si Sari, yang mayat adiknya dicuri, mulai mencari pelaku. Terus mulai menyelidiki kenapa gule si Sumi laris. Terus pake ilmu sihir teluh untuk saling fitnah, tuduh, dan semacamnya untuk saling menjatuhkan bisnis kedua karakter tersebut. Intinya ada banyak potensi cerita yang berputar pada ide penjual gule daging kanibal. Tapi sayangnya plot ini gak digunakan. Digunakannya cuma di awal doang. Sampe tengah-tengah, ceritanya jadi generik berkisar di tema balas dendam, perselingkuhan... membosankan. Tapi sepertinya yang jadi fokus, atau yang pingin diunggulkan oleh si penulis adalah tema tentang plot twist misteri mengenai siapa pembunuh si adik Sari dan di mana ibu si Sumi. Masalahnya, gak ada set...

Film The Marvels

Secara umum, film ini tuh tipikal cerita yang aku menyebutnya hero redemption. Di mana si Captain Marvel berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu. Dan ini premis yang bagus. Karena aku tertarik untuk mengetahui apa akibat tindakan Captain Marvel men-shutdown pemimpinnya bangsa Kree. Pasti bakal ada problem kan. Ditambah ada karakter Photon, keponakan yang dia tinggalkan saat masih kecil. Juga Miss Marvel yang merupakan fans, Captain Marvel pasti mengalami struggle bagaimana menampilkan diri jadi panutan kedua karakter tersebut. Ini kan konflik menarik. Terus juga ada premis di mana ketiga karakter ini mengalami quantum entangling atau apa itu istilahnya, di mana mereka bisa switch up setiap kali menggunakan kekuatan mereka secara bersamaan. Ini juga bisa jadi potensi konflik sekaligus alat yang bagus untuk dinamika relationship antar ketiga karakter. Sayangnya, sayang banget, potensi kedua premis di atas kurang digunakan secara maksimal. Karena aku melihat di tengah-tengah film, konfl...

Film Gatotkaca

Film ini mengecewakan. Mulai dari kostum, dialog, koreografi, plot, karakter, worldbuilding, CGI, please.. mulai dari mana aku harus mengkritik. Aku bahas inti permasalahannya saja, yaitu plotnya gak terarah. Secara umum, film ini adalah tipikal plot origin superhero movie. Ya kayak spiderman, iron man, captain america, yang gitu-gitu lah. Nah, apa yang jadi fokus arah plot origin superhero movie? Ya tentu saja karakter superheronya. Mereka fokus pada motivasi, latar belakang, konflik, perkembangan, dan penyelesaian yang dialami oleh si karakter hero. Dalam film yang kita bahas ini, harusnya fokus saja sama perkembangan karakter si Gatotkaca. Masalahnya adalah, film ini gak fokus kesana. Memang ada arah perkembangan karakternya. Mulai dari latar belakang keluarganya, terus motivasinya buat melindungi si ibu (atau balas ayahnya), terus dapat superpower, terus berubah jadi superhero. Namun demikian, ceritanya banyak dialihkan ke plot lain yang menurutku gak penting. Misal plot tentang p...

Kenapa Mikasa Sama Jean, Sih?!

Jadi di endingnya anime Attack on Titan, Mikasa nikah sama Jean, gitu?! Ini aku gak kecewa sih. Gini, aku paham alasan kenapa Mikasa dinikahkan sama Jean. Mungkin karena kasihan sama Mikasa, si kreator gak pingin Mikasa nasibnya menyendiri sampai tua. Terus dipasangkan sama Jean, karena dipikir ya siapa lagi yang cocok. Mungkin gini alasannya. Tapi masalahnya, Mikasa sama Jean ini gak build up relationship. Okey lah, Jean sejak awal sudah menunjukkan benih-benih perasaan. Terus di tengah progres anime, ada momen di mana Jean menyelamatkan Mikasa. Persoalannya, Mikasa gak memberikan timbal balik atas effort dan perasaannya Jean. Jadi sejak awal memang one-sided. Gak ada build up. Relationship development yang gak ada build up-nya, itu gak bagus secara storytelling. Untuk membuktikan kenapa Mikasa-Jean ini gak bagus, itu diuji aja. Coba kalian ganti Jean dengan karakter lain, misal Connie. Nah, taruh Connie sebagai karakter yang menikahi Mikasa di akhir. Nuansa relationship-nya sama kaya...

Kritik Film Spiderman Miles Morales

Aku punya ekspektasi tinggi sama film Spiderman Across The Spiderverse. Dan aku kecewa. Memang filmnya bagus secara visual dan worldbuilding. But character and plot wise, not so much. Even bad . Here’s why . Visual dan worldbuilding yang menarik Pertama, harus aku akui visualnya keren banget. Full color, beda style tiap multiverse, ini memberikan pengalaman unik dalam film yang temanya multiverse. Worldbuilding-nya juga keren. Konsep desain tiap spiderman yang berbeda-beda, dengan masing-masing ability-nya, mak nyus banget. Malah kayaknya ini bagian favoritku dalam film, ketika semua spiderman mengejar Miles dengan ability masing-masing. Ya, dua hal itu yang aku sangat enjoy dalam film ini. Visual, dan worldbuilding. Tapi character dan plot? Oh boy … Karakter yang kurang dinamis Aspek karakter dalam film ini terasa kurang dinamis. Atau kalaupun terjadi dinamika antar karakter, malah jadinya kurang konsisten. Yang kumaksud kurang dinamis adalah kurangnya konflik kepribadian atau motivas...

Spiderman No Way Home: Sebuah Nostalgia

Review film Spiderman No Way Home. Sebenarnya ini draft tulisan lama. Aku nonton dan nulis draft ini pas malam tahun baru. Cuma entah kenapa tidak aku terusin. Jadinya terbengkalai dalam tumpukan file dokumen. Namun tak apa lah. Meski telat, aku upload sajalah sekarang. Karena ada pesan-pesan mendalam yang ingin aku bagikan ke kalian melalui review film ini. Film ini lebih mirip sebuah tribute Baiklah, hal yang paling berkesan dari film ini, sudah jelas. Yup, kemunculan dua Spiderman dari seri film pendahulunya. Spiderman yang diperankan Tobby, dan Spiderman-nya Andrew, mereka semua hadir dalam film ini. Ketimbang film sebagai action superhero , aku merasa film Spiderman No Way Home lebih seperti love letter . Seperti sebuah tribute untuk seri film Spiderman pendahulunya. Hal ini aku lihat dari adanya adegan tiga Spiderman yang berdialog soal beberapa hal sepele, seperti bagaimana cara kerja web-shooter mereka, atau siapa villain terkuat yang pernah mereka hadapi. Dialog itu menuru...

Jatuhnya Pesawat Boeing

 Aku barusan nonton film dokumenter Netflix, judulnya “Downfall: The Case Against Boeing.” Film ini menceritakan investigasi dua kasus kecelakaan pesawat, yang dua-duanya merupakan pesawat keluaran produksi Boeing. Yang menarik perhatianku, salah satu kasus kecelakaan tersebut terjadi di Indonesia. Pada tahun 2018, pesawat maskapai penerbangan Lion Air kecelakaan tidak lama setelah lepas landas dan menewaskan seluruh penumpang dan awak kru di dalamnya. Kalian ingat kejadian itu? Aku pribadi tidak begitu ingat. Yang bisa aku ingat adalah kecelakaan tersebut cukup aneh, karena terjadi saat cuaca cerah, dan tidak lama setelah lepas landas. Banyak spekulasi beredar. Publik melempar masalahnya penyebabnya pada si pilot, atau juga pihak maskapai, dengan menyebut mereka sebagai maskapai murah, dan semacamnya. Aku pribadi tidak pernah mendapati berita follow up tentang penyebab asli kecelakaan tersebut. Tidak, sampai aku melihat film dokumenter ini. Penyebabnya adalah adanya sistem MCAS I...

Pasar Setan dalam Film Wanda Vision

Aku baru saja selesai nonton maraton serial Wanda Vision. Dan aku cukup puas mendapati akhirnya ada superhero yang merepresentasikan kultur sihir dari belahan bumi barat. Superhero Marvel dan konsep kultur sihir Kita tahu bahwa tiap superhero di semesta Marvel Cinematic itu masing-masing mewakili konsep kultur tertentu di dunia. Misal Thor, mewakili kultur mitos nordic. Iron Man mewakili kultur pengembangan teknologi AI. Dan semacamnya. Adapun konsep kultur sihir sebenarnya sudah terwakilkan oleh Dr. Strange. Namun, sihir dalam Dr. Strange ini merupakan kultur sihir belahan bumi timur. Ya bisa dilihat sendirilah di film-nya, si Strange belajar sihirnya di tempat semacam pegunungan Tibet gitu. Karena dari belahan timur, maka konsepnya sihirnya itu dipersepsi sesuatu yang positif. Sihirnya identik dengan penyembuhan, atau kebijaksanaan, keseimbangan alam, dan semacamnya. Ini adalah sihir dalam kultur timur. Sihir seakan harus dilatih dan dilestarikan. Namun demikian, kita juga tahu bahwa...